Kilas balik.
Jakarta, 2012
Sepasang suami istri tengah duduk ditemani kudapan di hadapan. Sembari menunggu harta satu-satunya di alam semesta kembali dalam pangkuan mereka berdua.
"Menurut kamu, nanti Dirandjani bakal menjadi orang yang seperti apa?" Begitulah lontaran pertanyaan lolos dalam belah ranum milik sang pahlawan keluarga, Vincentius Wicaksana.
Menunggu tanggapan, tak lama wujud tercinta seorang Vincent tersenyum. "Kaya kamu? Atau malah aku?" Seraya menatap hamparan udara bersama taman kecil milik wisma yang mereka singgahi. "Tapi nggak mungkin, Jani itu representatif dari Mama aku rasa."
Tawa Vincent mengudara kala mendengar jawaban dari Laraduhita Ambharum. Kembali menyentuh cangkir teh dalam genggaman, dwimanik Vincent mengikuti arah pandangan sang istri.
"Mama kalau dengar bisa-bisa Jani nanti diseret ke Netherlands," tukas sang kepala keluarga dengan diselingi nada guyonan.
"Ayah ... Bunda ..."
Suara tak asing menyambut rungu Vincent dan Arum. Itu Dirandjani, baru saja melewati masa ospek di jenjang Sekolah Menengah Atas. Jelas terlihat raut berantakan dengan tas yang hampir menyentuh keramik. Disusul oleh ekspresi tak memiliki definisi kala tampak dua manusia di hadapannya tengah menautkan jemari mereka di atas meja.
"Nggak apa habis ini aku putar balik badan 360 derajat. Boleh dilanjut sesi berduaan pegangan tangan kaya anak muda. Karena nanti aku nggak akan rusuh dan turun dari tangga." Seolah mengerti akan keadaan, Dirandjani melambaikan tangannya, membentuk lengkung sabit pada si teruni. "Dadah!"
Saking sibuk mendengar buah hati mereka berceloteh, Vincent tersedak oleh teh yang ia minum begitu Dirandjani berbalik usai memaparkan kalimatnya tadi. "Anak kamu, Rum."
Arum menghela napasnya kemudian, di umur 16 tahun ia yakin betul bahwa masa mudanya tidak seperti ini begitupun sebaliknya dengan Vincent. Senyum pada Arum tak lama terbit.
"Ya, anak kita memang begitu. Sudah ubanan dikata masih remaja."
Jadi, siapa yang sebetulnya disebut kawula muda?
Komentar
Posting Komentar