Kilas balik.
Jakarta, 2012 Sepasang suami istri tengah duduk ditemani kudapan di hadapan. Sembari menunggu harta satu-satunya di alam semesta kembali dalam pangkuan mereka berdua. "Menurut kamu, nanti Dirandjani bakal menjadi orang yang seperti apa?" Begitulah lontaran pertanyaan lolos dalam belah ranum milik sang pahlawan keluarga, Vincentius Wicaksana. Menunggu tanggapan, tak lama wujud tercinta seorang Vincent tersenyum. "Kaya kamu? Atau malah aku?" Seraya menatap hamparan udara bersama taman kecil milik wisma yang mereka singgahi. "Tapi nggak mungkin, Jani itu representatif dari Mama aku rasa." Tawa Vincent mengudara kala mendengar jawaban dari Laraduhita Ambharum. Kembali menyentuh cangkir teh dalam genggaman, dwimanik Vincent mengikuti arah pandangan sang istri. "Mama kalau dengar bisa-bisa Jani nanti diseret ke Netherlands," tukas sang kepala keluarga dengan diselingi nada guyonan. "Ayah ... Bunda ..." Suara tak asing menyambut rungu Vince...